Jumat, 01 Januari 2010

Pandangan terhadap etika bisnis

Friday, 30 January 2009 15:44   

Etika bisnis dapat meliputi scope institusi maupun pribadi. Etika bisnis institusional berhubungan dengan pihak luar, agar tidak mengenai seseorang & topik abstrak dari etika perusahaan sebagai institusi.

Sebagai contoh adalah tanggung jawab sosial perusahaan, dari tingkat internasional, kita dapat berdebat secara deduktif berdebat kembali ke etika eksekutif individual yang memutuskan kebijakan perusahaan.

Sebaliknya etika bisnis perseorangan dimulai pada spektrum akhir yang berlawanan dari etika institusional, yaitu berhubungan dengan pembuat keputusan secara individu.

Kita dapat berdebat secara induktif dimulai dari concrete, terutama tingkat atas ke moralitas yang umum dari kebijakan-kebijakan perusahaan.

Etika bisnis perseorangan memiliki 2 asumsi. Pertama, perusahaan adalah sebuah kesatuan abstrak yang sah, dimana etika juga merupakan sesuatu yang abstrak.

Kedua, katrakter moral & sistem nilai perusahaan mencerminkan etika perseorangan & skala nilai dari tanggung jawab eksekutif secara individu bagi kebijakan perusahaan.

Pertama, kita akan memperlihatkan mengapa eksekutif-eksekutif memerlukan etika bisnis perseorangan terutama dengan keadaan dunia sekarang ini.

Kemudian kita akan membatasi sifat etika bisnis. Setelah bahan-bahan pengenalan ini, makalah ini akan memberikan argumentasi untuk etika bisnis perseorangan & eksekutif yang secara langsung meminta kepentingan mereka sendiri. Itu akan menghubungkan elemen-elemen teori manajemen dengan etika .

Dengan jalan istimewa itu akan menyambung teori motivasi karyawan dengan sebuah pertimbangan nilai-nilai, tipe-tipe karakter manajemen & tipe-tipe moral & gaya-gaya kepemimpinan manajemen dengan moralitas. Kemudian sebuah teknik praktek akan diterangkan yang akan membantu eksekutif-eksekutif mengaturkehidupan mereka lebih baik di bisnis & rasa etika.

Akhirnya, tulisan ini akan meyimpulkan dengan menjelaskan moral-moral ideal yang utama yang akan memandu eksekutif di pekerjaan & perkembangan mereka sebagai manajer & sebagai manusia.

Pertempuran-pertempuran baru eksekutif ini mempunyai karakter pribadi yang berbeda. Daripa tujuan bisnis yang tradisional yaitu memperbesar marjin keuntungan. - a rather pale & impersonal quest oleh perbandingan -, kita sekarang dapat melihat ego yang diperluas dari CEO yang ambisius yang terkunci dalam kemuliaan pribadi. Kita kelihatannya mempunyai lingkaran penuh dalam etika bisnis dengan sebuah pembalasan.

Pada penelitian-penelitian terdahulu dari peranan etika dalam bisnis, disesali bahwa etika pribadi meliputi disiplin- dipengaruhi oleh pertimbangan ekonomi, tidak mengenai seseorang. Dalam posisinya sekarang kita mempunyai baik etika maupun ekonomi ditakklukkan oleh hukum pribadi yang terlalu tinggi dari supermen perusahaan yang bangga dengan ego super.

Eksekutif-eksekutif ini kelihatannya mempuntai kesulitan mempertimbangkan diri mereka sendiri menjadi hanya sekadar makhluk hidup dibawah hukum baik etika maupun ekonomi. Mereka kelihatannya memikirkan bahwa mereka dibawah baik dan buruk dan dibawah keuntungan dan kerugian.

Pada usia personalitas yang masih dini dalam etika bisnis, secara khusus sangat penting bagi seorang eksekutif yang penuh pemikiran untuk mendapatkan pandangan pribadi pada hubungan antara bisnis & etika dalam kehidupannya sendiri.

Sebuah cara yang baik dalam melakukan ini adalah mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut : Bisnis apakah yang dimiliki etika dalam bisnis?

Bisnis apakah yag bisnis miliki dalam etika ? Apakah ada keuntungan dalam etika bagi seorang eksekutif ? dan apakah moral menolong seorang eksekutif menjadi seorang manajer yang lebih efektif ?

Dalam uraian ringkas beberapa jawaban sementara untuk pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan memusatkan perhatian pada relevansi pribadi langsung dari etika untuk eksekutif dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kami akan memperlihatkan bagaimana kemanusiaan mereka dan folosofi hidup bersinar melalui hubungan mereka dengan yang lain.

Untuk menetapkan sifat diskusi kita, berikut ini adalah sebuah perumpamaan oleh Peter Bamm, seorang penulis kontemporer Jerman dan fisikawan, berjudul Mengenang Rockefeller.

Rockefeller sudah mati. Pada suatu saat dia diduga pernah berbicara tentang dirinya, bahwa meskipun dia raja minyak di dunia, dia tidak cukup memiliki lemak untuk menggabungkannya. Tanda dari orang terkaya di dunia sangat dalam dan besar. Itu menempatkan dirinya sejajar dengan Diogenes.

Etika bisnis memang harus dihidupkan di perusahaan. Dalam kaitan ini, perusahaan yang bergerak di bidang konsultan mempunyai peran besar dalam pembentukan norma. Bagaimana perusahaan konsultan menegakkan etika bisnis?

Kemal A. Stamboel, Managing Partner Kemal Stamboel & Partners yang berasosiasi dengan konsultan besar dunia Price Waterhouse Coopers (PWC) menjelaskan lika-liku bisnis konsultan dan upaya untuk menegakkan etika dan transparansi di perusahaan. Simak berbagai pandangannya:

“Perusahaan konsultan internasional seperti PWC mempunyai standar yang bersifat global. Mereka yang berkonsultasi akan mendapatkan standar yang sama di berbagai negara. Perusahaan yang telah memiliki standar akan dikenal reputasinya, baik sebagai brand, isi pelayanan, kualitas orang, dan output orang-orangnya.

Pendekatan standar dengan kualifikasi, bukan “asal-asalan”. Perusahaan konsultan sangat menjunjung tinggi kualitas pemikiran. Keunggulan perusahaan terletak pada knowledge management.

Misalnya, bagaimana memberdayakan dan meningkatkan pengetahuan dengan program yang jelas. Upaya ini memerlukan usaha yang tidak kecil.

Untuk membangun reputasi, perusahaan konsultan sangat menjunjung etika. Oleh karena itu jarang perusahaan konsultan yang beriklan secara berlebih.

Agar reputasi tetap terjaga, perusahaan konsultan memiliki beberapa kriteria. Kami menolak klien yang berisiko tinggi, walaupun dia menyediakan banyak uang.

Ketika ekonomi Indonesia tumbuh pesat dalam sepuluh tahun terakhir, banyak pendatang baru di bisnis. Ada pedagang yang menjadi bankir. Banyak juga pengusaha yang sangat ekspansif di luar kemampuan.

Mereka berlomba membangun usaha konglomerasi yang keluar dari bisnis intinya tanpa disertai manajemen organisasi yang baik. Akibatnya, pada saat ekonomi sulit banyak perusahaan yang bangkrut.

Salah satu etika perusahaan konsultan adalah menjaga kerahasiaan klien. Bisa saja perusahaan konsultan menangani dua perusahaan dalam industri yang sama, tetapi kerahasiaan masing-masing perusahaan akan tetap terjaga.

Perusahaan yang satu tidak dapat memanfaatkan perusahaan yang lain. Setiap perusahaan mempunyai penyelesaian masalah, sehingga nantinya bisa berkompetisi satu dengan yang lainnya.

Perusahaan konsultan mempunyai value dan memberikan rekomendasi yang akan dilaksanakan kliennya. Misalkan, ada etika, perusahaan tidak mempekerjakan pegawai anak-anak.

Di luar negeri, ada pembatasan hubungan berdagang dengan perusahaan-perusahaan yang tidak menjunjung etika berdagang yang baik. Kami juga menyarankan, perusahaan jangan mengambil keuntungan yang berlebihan dengan cara menipu konsumen.

Pelanggaran etik bisnis di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan etik perlu digalakkan.
Misalkan, perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan dapat menimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi.

Dari mana upaya penegakkan etika bisnis dimulai? Etika bisnis paling gampang diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena mereka menjadi panutan bagi karyawannya.

Selain itu, etika bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seyogyanya bisa memisahkan perusahaan dengan milik sendiri. Dalam operasinya, perusahaan mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang-undang.

Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya.

Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan.

Usaha jasa konsultan mungkin tidak terlepas dari penyimpangan. Padahal bisnis ini perlu dilandasi reputasi dan persepsi.

Oleh karena itu bila ada persepsi negatif jangan diremehkan. Dalam menghadapi masalah, perusahaan jangan defensif, tetapi melakukan aksi pembenahan ke dalam.

Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menegakkan budaya transparansi antara lain; Penegakkan budaya berani bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.

Individu yang mempunyai kesalahan jangan bersembunyi di balik institusi. Untuk menyatakan kebenaran kadang dianggap melawan arus, tetapi sekarang harus ada keberanian baru untuk menyatakan pendapat. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengukur kinerja jelas. Bukan berdasarkan kedekatan dengan atasan, melainkan kinerja. Pengelolaan sumber daya manusia harus baik.

B. Perilaku Asertip

Perilaku asertip bukan berarti seseorang sempurna. Sikap asertif merupakan ungkapan, gagasan, perasaan, pendapat, dan kebutuhan seseorang secara jujur dan wajar, tidak dibuat-buat.

Pakar perilaku, Astrid french, dalam bukunya yang berjudul ” Interpersonal Skill ” bahwa perilaku asertif akan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjadi apapun yang menjadi haknya.

Sebagai contoh keseharian perilaku asertif adalah sebagai berikut ; dalam menaiki jenjang karir salah satu yang dihadapi adalah bagaimana membangun sikap yang tegas, tetapi tidak ditafsirkan menyerang orang lain.

Bisa berkata tidak, tanpa melukai siapapun. Asertifitas ini bukan sekedar bicara, tapi lebih luas lagi:

Bagaimana tindakan kita sehari hari dalam berhubungan dengan orang di sekeliling kita? Bagaimana ciri-ciri perilaku asertif, yang letaknya diantara submisif dan agresif itu? Inilah penjelasannya.

Orang yang mempunyai perilaku submisif berkecenderungan menerima dan bahkan menyerah pada semua hal yang terjadi, sekalipun yang dihadapi buruk adanya. Yang menonjol dari perilaku ini adalah tidak mampu mengatakan "Tidak" pada kondisi dimana ia harus menyatakan "tidak".

Jelas perilaku seperti ini menimbulkan berbagai masalah baik bagi dirinya sendiri maupun orang-orang lain yaitu: tidak dapat dijadikanpartner kerja yang baik dan sulit untuk berkembang.

Orang dengan perilaku seperti ini akan selalu menghadapi berbagai hambatan dan selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menjatuhkan aktivitasnya.

Bagaimana mengenai perilaku agresif? Perilaku agresif mempunyai pengertian yang bertolak belakang dari perilaku submisif.

Perilaku agresif cenderung untuk tidak melihat atau tidak mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Apa pun yang menjadi keinginannya itulah yang harus dilaksanakan. Dengan demikian, orang yang berperilaku demikian akan menemui berbagai kesulitan pada waktu bekerja secara tim.

Kalaupun dipaksakan cenderung melakukan banyak kesalahan yang pada akhirnya menghambat kariernya sendiri.
Dan inilah yang dimaksud dengan perilaku asertif.

Perilaku asertif dibandingkan dengan kedua perilaku di atas (submisif dan agresif) berada di antara keduanya, yaitu perilaku yang dapat menyatakan "Ya" dan "Tidak" sesuai pada kondisi yang terjadi.Orang yang memiliki perilaku asertif ini cenderung dapat bekerja sama dan dapat berkembang untuk mencapai tujuan yang lebih baik.

Pada perilaku ini tingkat sensitivitas yang dimiliki cukup tinggi sehingga ia dapat membaca situasi yang terjadi di sekelilingnya, yang memudahkannya untuk menempatkan diri dan melakukan aktivitasnya secara strategis, terarah, dan terkendali mantap.

Ketiga perilaku dasar tersebut selalu berdampak langsung terhadap perkembangan diri dan berbagai aktivitas yang dijalankannya. Di sini terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku yang dimiliki dengan tindakan yang dilakukan.

Seperti halnya orang yangberperilaku submisif cenderung tidak memfokuskan diri pada perkembangan dirinya berdasarkan kemampuan yang dimiliki; mereka akan mengikuti apa saja yang menjadi keinginan pimpinan, keinginan keluarga, atau keinginan masyarakat.

Apabila kita menyimak secara mendalam penjabaran di atas, maka terlihat bahwa perilaku asertif merupakan pilihan utama yang patut dikembangkan dalam upaya memperlihatkan citra diri berkualitas.

Perilaku asertif berarti adanya sikap tegas yang dikembangkan dalam berhubungan dengan banyak orang dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Dalam artian, ia dapat mengambil keputusan atau melakukan tindakan tertentu berdasarkan hasil pemikiran sendiri, tanpa sikap emosional, meledak-ledak, atau berperilaku buruk lainnya. Ia menegakkan kemandiriannya tanpa bermaksud menyakiti hati orang lain. Ketegasanpenuh kelembutan, ketegasan tanpa arogansi, itulah ciri asertif.

Lebih jauh lagi perilaku asertif membuat seseorang merasa ertanggung jawab dan konsekuen untuk melaksanakan keputusannya endiri. Dalam hal ini, ia bebas untuk mengemukakan berbagai keinginan, pendapat, gagasan, dan perasaan secara terbuka sambil etap memperhatikan juga pendapat orang lain.

Citra dirinya akan terhat sebagai sosok yang berpendirian dan tidak terjebak pada ksploitasi yang erugikan dirinya sendiri. Dengan demikian, akan imbul rasa hormat dan penghargaan orang lain yang berpengaruh besar erhadap pemantapan eksistensi dirinya di tengah-tengah khalayak uas.
Membangun Perilaku Asssertive

Kehadiran seorang teman memiliki arti tersendiri bagi kita semua. erhubungan dengan orang lain dengan beranggapan bahwa mereka adalah eman sampai pada batas-batas tertentu, dapat membantu kita untuk elalu bersikap ramah, terbuka, dan memperhatikan kehadiran mereka. esemuanya dapat kita manfaatkan secara positif dalam rangka engembangkan perilaku asertif dalam aktivitas sehari-hari, karena engan menerima kehadiran orang lain terlebih dahulu kita pun dapat embuat mereka memahami keberadaan kita.

Dalam membangun assertivitas terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh. Salah satunya adalah Formula 3 A, yang terangkai dari tiga kata yaitu Appreciatio , Acceptance, Accommodating:

Appreciation berarti menunjukkan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, dan tetap memberikan perhatian sampai pada batas-batas tertentu atas apa yang terjadi pada diri mereka.

Mereka pun, seperti kita, tetap membutuhkan perhatian orang lain. Dengan demikian, agar mereka mau memperhatikan, memahami, dan menghargai diri kita, maka sebaiknya kita mulai dengan terlebih dahulu menunjukkan perhatian,pemahaman, dan penghargaan kepada mereka.

Acceptance adalah perasaan mau menerima, memberikan arti sangat positif terhadap perkembangan kepribadian seseorang, yaitu menjadi pribadi yang terbuka dan dapat menerima orang lain sebagaimana keberadaan diri mereka masing-masing.

Dalam hal ini, kita tidak memiliki tuntutan berlebihan terhadap perubahan sikap atau perilaku orang lain (kecuali yang negatif) agar ia mau berhubungan dengan mereka.

Tidak memilih-milih orang dalam berhubungan dengan tidak membatasi diri hanya pada keselarasan tingkat pendidikan, status sosial, suku, agama, keturunan, dan latar belakang lainnya.

Terakhir adalah accomodating. Menunjukkan sikap ramah kepada semua tanpa terkecuali, merupakan perilaku yang sangat positif. Keramahan senantiasa memberikan kesan positif dan menyenangkan kepada semua orang yang kita jumpai.

Keramahan membuat hati kita senantiasa terbuka, yang dapat mengarahkan kita untuk bersikap akomodatif terhadap situasi dan kondisi yang kita hadapi, tanpa meninggalkan kepribadian kita sendiri.

Dalam artian, kita dapat memperlihatkan toleransi dengan penuh rasa hormat, namun bukan berarti kita jadi ikut lebur dalam pandangan orang lain, apalagi dengan hal-hal yang bertentangan dengan diri kita.

Hal ini penting sekali untuk diperhatikan agar kita mampu menempatkan diri secara benar di tengah khalayak luas, sekaligus membina saling pengertian dengan banyak orang.

Formula 3 A merupakan pedoman untuk memperlihatkan asertivitas berdasarkan empati dalam rangka membina hubungan baik dengan banyak vorang, dengan asumsi bahwa orang lain pun mempunyai hak dan kesempatan yang sama seperti kita.

Oleh karena itu, kita dapat mengemukakan hak pribadi, namun janganlah kita melupakan untuk memperhatikan hak orang lain pula.

Asertivitas harus didukung oleh kemampuan untuk berargumentasi secara logis dan konstruktif, yaitu bahwa ia mampu untuk menjalankan pilihannya secara konsekuen dan bertanggung jawab.

Bagi kita yang merasa perlu untuk tampil secara asertif diharapkan dapat mengevaluasi diri dengan memperhatikan elemen-elemen yang bermanfaat untuk peningkatan asertivitas dengan berpatokan pada formula 3 A.

Sosok pribadi yang mampu mengembangkan perilaku asertif ini secara memadai, tentu akan terhindar dari berbagai permasalahan yang acap kali menghadang gerak maju dalam pencapaian performansi prima. (Zoeparmas)

Sumber:

TANGGUNG JAWAB SOSIAL SUATU BISNIS

A. Benturan dengan Kepentingan Masyarakat
Terjadi pada berbagai tingkat perusahaan ( besar , menengah , maupun kecil ) . Benturan ini terjadi kerap kali karena perusahaan menimbulkan polusi ( udara , air ,limbah , suara bahkan mental kejiwaan )
Klasifikasi Aspek Pendorong Tanggung Jawab Sosial
Hal – hal pendorong dilaksanakannya etika bisnis :
1. Dorongan dari pihak luar ( lingkungan masyarakat )
2. Dorongan dari dalam bisnis itu sendiri ( sisi humanisme pebisnis yang melibatkan rasa , karsa , dan karya yang ikut mendorong diciptakannya etika bisnis yang baik dan jujur.)
B.Dorongan Tanggung Jawab Sosial
Klasifikasi masalah sosial yang mendorong pelaksanaan tanggung jawab sosial pada sebuah bisnis sebagai berikut :
1. Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
Kegiatan intern yang muncul bersifat sangat kaku , keras , zakeliyk ( saklek ) , birokratik , dan otoriter. Hubungan yang kurang manusiawipun kerap terjadi antara perusahaan dengan pihak luar ( pelanggan , masyarakat umum )
Manfaat Penerapan Manajemen Orientasi Kemanusiaan
a. Peningkatan moral kerja karyawan yang berakibat membaiknya semangat dan produktivitas kerja.
b. Adanya partisipasi bawahan dan timbulnya rasa ikut memiliki sehingga tercipta kondisi manajemen partisipatif.
c. Penurunan absen karyawan yang disebabkan kenyamanan kerja sebagai hasil hubungan kerja yang menyenangkan dan baik.
d. Peningkatan mutu produksi yang diakibatkan oleh terbentuknya rasa kepercayaan diri karyawan.
e. Kepercayaan konsumen yang meningkat dan merupakan modal dasar bagi perkembangan selanjutnya dari perushaan.
2. Ekologi dan Gerakan Pelestarian Lingkungan
Ekoligi yang menitikberatkan pada keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya banyak dipengaruhi oleh proses produksi. Contohnya maraknya penebangan hutan sebagai bahan dasar industri perkayuan , perburuan kuit ular yang diperuntukkan industri kerajinan kulit dan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.
3. Penghematan Energi
Pengurasan secara besar – besaran energi yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui seperti batu bara , minyak dan gas telah banyak terjadi. Yang dapat disebut dengan sumber energi alternatif diantaranya adalah pemanfaatan tenaga surya , nuklir , angin , air serta laut.
4. Partisipasi Pembangunan Bangsa
Kesadaran masyarakat pebisnis terhadap suksesnya pembangunan sangat diperlukan karena akan membantu pemerintah menangani masalah pengangguran dengan cara ikut melibatkan penggunaan tenaga kerja yang ada sebagai bentuk tanggung jawab sosial pada lingkungan sekitar perusahaan beroperasi.
5. Gerakan Konsumerisme
Awal perkembangannya tahun 1960-an dinegara barat yang berhasil memberlakukan undang – undang perlindungan konsumen yang meliputi beragam aspek mulai dari perlindungan atas praktik penjualan paksa sampai pemberian ijin lisensi bagi para petugas reparasi alat rumah tangga.
Tujuan Dari Gerakan Konsumerisme
a. Memperoleh perhatian dan tindakan nyata dari kalangan bisnis terhadap keluhan konsumen atas praktek bisnisnya.
b. Pelaksanaan strategi advertensi / periklanan yang realistik dan mendidik serta tidak menyesatkan masyarakat.
c. Diselenggarakan panel – panel disuksi antara wakil konsumen dan produsen.
d. Pelayanan puma jual yang lebih baik.
e. Berjalannya proses publik relation ( PR ) yang lebih menitik beratkan pada kepuasan konsumen daripada promosi semata.
C. Etika Bisnis
Merupakan penerapan secara langsung tanggung jawab sosial dalam suatu bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Etika pergaulan dalam melaksanakan bisnis disebut etika pergaulan bisnis.
- Hubungan Antara Bisnis dengan Langganan / Konsumen
Merupakan pergaulan antara konsumen dengan produsen dan paling banyak ditemui.
- Hubungan Dengan Karyawan
Meliputi penerimaan , latihan , promosi , transfer , demosi maupun pemberehentian.
- Hubungan Antar Bisnis
Merupakan hubungan yang terjadi diantara perusahaan , baik perusahaan kolega , pesaing , penyalur , grosir , maupun distributor.
- Hubungan Dengan Inversor
Pemberian informasi yang benar antar investor.
- Hubungan Dengan Lembaga – Lembaga Keuangan
Merupakan hubungan yang bersifat financial , berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan.
D. Bentuk – Bentuk Tanggung Jawab Sosial Suatu Bisnis
Beberapa bnetuk pelaksanaan tanggung jawab sosial yang dapat kita temui di Indonesia adalah :
1. Pelaksanaan Hubungan Industrialis Pancasila ( HIP )
2. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan ( AMDAL )
3. Penerapan Prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja ( K3 )
4. Perkebunan Inti rakyat ( PIR )
5. Sistem Bapa Angkat – Anak Angkat

MASALAH POKOK DALAM ETIKA BISNIS

3,989 views
Posted by Chief Editor on January 8th, 2009

                                                                                                                                     Ads by Value Media

ethicAndaikan anda adalah seorang direktur teknik yang harus menerapkan teknologi baru. Anda tahu teknologi ini diperlukan dapat meningkatkan efisiensi industri, namun pada saat yang sama juga membuat banyak pegawai yang setia akan kehilangan pekerjaan, karena teknologi ini hanya memerlukan sedikit tenaga kerja saja. Bagaimana sikap anda? Dilema moral ini menunjukkan bahwa masalah etika juga meliputi kehidupan bisnis. Perusahaan dituntut untuk menetapkan patokan etika yang dapat diserap oleh masyarakat dalam pengambilan keputusannya. Sedangkan di pihak lain, banyak masyarakat menganggap etika itu hanya demi kepentingan perusahaan sendiri. Tantangan yang dihadapi serta kesadaran akan keterbatasan perusahaan dalam memperkirakan dan mengendalikan setiap keputusannya membuat perusahaan semakin sadar tentang tantangan etika yang harus dihadapi.

INOVASI, PERUBAHAN DAN LAPANGAN KERJA
Aspek bisnis yang paling menimbulkan pertanyaan menyangkut etika adalah inovasi dan perubahan. Sering terjadi tekanan untuk berubah membuat perusahaan atau masyarakat tidak mempunyai pilihan lain. Perusahaan harus menanam modal pada mesin dan pabrik baru yang biasanya menimbulkan masalah karena ketidakcocokan antara keahlian tenaga kerja yang dimiliki dan yang dibutuhkan oleh teknologi baru. Sedangkan perusahaan yang mencoba menolak perubahan teknologi biasanya menghadapi ancaman yang cukup besar sehingga memperkuat alasan perlunya melakukan perubahan. Keuntungan ekonomis dari inovasi dan perubahan biasanya digunakan sebagai pembenaran yang utama.
Sayangnya biaya sosial dari perubahan jarang dibayar oleh para promotor inovasi. Biaya tersebut berupa hilangnya pekerjaan, perubahan dalam masyarakat, perekonomian, dan lingkungan. Biaya-biaya ini tak mudah diukur. Tantangan sosial yang paling mendasar berasal dari masyarakat yang berdiri di luar proses. Dampak teknologi baru bukan mustahil tak dapat diprediksi. Kewaspadaan dan keterbukaan yang berkesinambungan merupakan tindakan yang penting dalam usaha perusahaan memenuhi kewajibannya.
Dampak inovasi dan perubahan terhadap tenaga kerja menimbulkan banyak masalah dibanding aspek pembangunan lainnya. Banyak pegawai menganggap inovasi mengecilkan kemampuan mereka. Hal ini mengubah kondisi pekerjaan serta sangat mengurangi kepuasan kerja. Perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk menyediakan lapangan kerja dan menciptakan tenaga kerja yang mampu bekerja dalam masa perubahan. Termasuk di dalamnya adalah
mendukung, melatih, dan mengadakan sumber daya untuk menjamin orang-orang yang belum bekerja memiliki keahlian dan dapat bersaing untuk menghadapi dan mempercepat perubahan.

PASAR DAN PEMASARAN
Monopoli adalah contoh yang paling ekstrem dari distorsi dalam pasar. Ada banyak alasan untuk melakukan konsentrasi industri, misal, meningkatkan kemampuan berkompetisi, memudahkan permodalan, hingga semboyan “yang terkuat adalah yang menang”. Penyalahgunaan kekuatan pasar melalui monopoli merupakan perhatian klasik terhadap bagaimana pasar dan pemasaran dilaksanakan. Kecenderungan untuk berkonsentrasi dan kekuatan nyata dari perusahaan raksasa harus dilihat secara hati-hati.
Banyak kritik diajukan pada aspek pemasaran, misal, penyalahgunaan kekuatan pembeli, promosi barang yang berbahaya, menyatakan nilai yang masih diragukan, atau penyalahgunaan spesifik lain, seperti iklan yang berdampak buruk bagi anak-anak. Diperlukan kelompok penekan untuk mengkritik tingkah laku perusahaan. Negara pun dapat menentukan persyaratan dan standar.

PENGURUS DAN GAJI DIREKSI
Unsur kepengurusan adalah bagian penting dari agenda kebijaksanaan perusahaan karena merupakan kewajiban yang nyata dalam bertanggungjawab terhadap barang dan dana orang lain. Perusahaan wajib melaksanakan pengurusan manajemen dengan tekun atas semua harta yang dipertanggungjawabkan pada pemberi tugas. Tugas terutama berada pada pundak direksi yang diharapkan bertindak loyal, dapat dipercaya, serta ahli dalam menjalankan tugasnya. Mereka tidak boleh menyalahgunakan posisinya. Mereka bertanggung jawab pada perusahaan juga undang-undang. Dalam hal ini auditing memegang peranan penting dalam mempertahankan stabilitas antara kebutuhan manajer untuk menjalankan tugasnya dan hak pemegang saham untuk mengetahui apa yang sedang dikerjakan para manajer. Perdebatan mengenai gaji direksi terjadi karena adanya ketidakadilan dalam proses penentuannya, ruang gerak yang dimungkinkan bagi direksi, kurang jelasnya hubungan antara kinerja organisasi dan penggajian, paket-paket tambahan tersembunyi dan kelemahan dalam pengawasan. Tampaknya gaji para direksi meningkat, sementara tingkat pertumbuhan pendapatan rata-rata cenderung menurun, dan nilai saham berfluktuasi. Hal ini menimbulkan kritik dan kesadaran untuk menyoroti kenaikan gaji para eksekutif senior. Informasi dan pembatasan eksternal merupakan unsur penting dalam upaya menyelesaikan penyalahgunaan yang terjadi.

TANTANGAN MULTINASIONAL
Sering terjadi, perusahaan internasional mengambil tindakan yang tak dapat diterima secara lokal. Banyak pertanyaan mendasar bagi perusahaan multinasional, seperti kemungkinan masuknya nilai moral budaya ke budaya masyarakat lain, atau kemungkinan perusahaan mengkesploitasi lubang-lubang perundang-undangan dalam sebuah negara demi kepentingan mereka. Dalam prakteknya, perusahaan internasional mempengaruhi perkembangan ekonomi sosial masyarakat suatu negara. Mereka dapat mensukseskan aspirasi negara atau justru malah membuat frustasi dengan menghambat tujuan nasional. Hal ini meningkatkan kewajiban bagi perorangan maupun industri untuk melaksanakan aturan kode etik secara internal maupun eksternal.

(Sumber: Tom Cannon, Coporate Responsibility)

Sumber: http://indosdm.com/masalah-pokok-dalam-etika-bisnis

ETIKA BISNIS PANCASILA

[Artikel - Th. I - No. 2 - April 2002]

Mubyarto


ETIKA BISNIS PANCASILA

I.       People of the same trade seldom meet together, even for merriment and diversion, but the conversation ends in a conspiracy against the public or in some contrivance to raise prices. It is impossible indeed to prevent such meeting by any law which either could be executed or would be consistent with liberty and  justice. But though th law cannot hinder people of the same trade from sometimes assembling together it ought to do nothing to facilitate such assemblies, much less to render them necessary. (Dikutip dalam Mubyarto, PERPIIS, h. 57)

 II.     Jika ada pendapat bahwa (ilmu) ekonomi tidak mengajarkan keserakahan sedangkan (ilmu atau praktek) bisnis  memang serakah, maka memang yang relevan adalah etika bisnis bukan etika ekonomi atau ekonomi moral. Namun jelas Adam Smith mengajarkan adanya homo ekonomikus atau homo socius atau homo religiousus. Artinya manusia memang mengandung pada dirinya dua sifat yang nampak bertentangan, yaitu sifat-sifat selfish-egois dan sifat-sifat social-symphathetic. Inilah sifat-sifat manusia yang masing-masing digambarkan dalam buku Adam Smith Wealth of Nations (1776) dan The Theory of Moral Sentiments.

 III.    Pengertian social economics atau economic sociology (Max Weber) adalah cara lain untuk menggambarkan sifat-sifat sosial manusia. Artinya manusia pada dasarnya suka hidup bermasyarakat dan saling membutuhkan yang dalam bahasa Jerman dikenal dalam konsep Gemeinschaft (paguyuban) yang dilawankan dengan konsep Gesellschaft (patembayan). Dalam dunia bisnis Jawa ada istilah “Tuna Satak Bati Sanak” yang artinya orang dapat mentoleransi kerugian uang dengan kompensasi bertambahnya persaudaraan (brotherhood).

 IV.    Dalam dunia perbankan di Indonesia sejak krisis moneter (krismon) tahun 1997, yang belum kunjung teratasi sampai sekarang, terlihat telah berkembang sistem dan praktek perbankan kapitalistik yang tidak etik karena menekankan pada pengejaran untung sebesar-besarnya. Dalam perbankan etik harus dihilangkan atau dikurangi nafsu mengejar untung tanpa batas, tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain. Perbankan etik di Indonesia harus menuju pada upaya-upaya mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Perbankan Syariah adalah perbankan yang demikian yang dewasa ini mulai digalakkan.

 V.     The outstanding faults of the economic society in which we live are its failure to provide for full employment and its arbitrary and equitable distribution of welath and income… I believe that there is social and psychological justification for significant inequalities of income and wealth but not for such large disparities as exist today (JM Keynes, 1936).

         Meskipun pernah diantara kita menolak tuduhan Indonesia telah melaksanakan sistem ekonomi Kapitalisme yang cacatnya disebutkan Keynes di atas, tetapi sekarang lebih banyak orang terang-terangan menerima sistem ekonomi tersebut karena dianggap “tak terelakkan” dan karena sejak 1991 jelas kapitalisme telah terbukti memenangkan persaingan dengan sosialisme.

 VI.     I shall argue that these perceptions are justified, that current capitalism is indeed morally deficient. This book is absolut whether, without abandoning capitalism, these serious deficiencies can be overcome (DW Hasslet, Capitalism with Morality, 1994).

         Kapitalisme yang “bermoral” adalah yang kaum buruh (dan petani untuk Indonesia) ikut serta aktif dalam “manajemen produksi”, yang serius mengembangkan program-program penanggulangan kemiskinan, dan jelas-jelas berusaha meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan.

         It is not capitalism per se that is immoral, but current capitalism. Capitalism with morality is possible… a capitalism without extreme inequalities of wealth and opportunity, a capitalism without alienated workers, a capital with morality. (Hasslet, h. 264).

 VII.   Jika Indonesia pernah menyambut baik sistem sosialisme religius yaitu sistem sosialisme yang aturan-aturan mainnya banyak mengacu pada ajaran-ajaran agama, maka di pihak lain ada yang menganggap lebih tepat menerapkan sistem Kapitalisme Pancasila. Pada hemat kami Pancasila berhak menjadi ideologi, pegangan yang secara penuh menggariskan aturan main, kebijakan dan program-program pembangunan nasional baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.
 VIII.  Etika Bisnis Indonesia yang dapat kita sebut Etika Bisnis Pancasila mengacu pada setiap sila atau perasan-perasannya. Menurut Bung Karno, pada pidato kelahiran Pancasila 1 Juni 1945, Pancasila dapat diperas menjadi Sila Tunggal, yaitu Gotong Royong, atau Tri Sila sbb: 
         1.       Socio-nasionalisme (Kebangsaan dan Peri Kemanusiaan)
2.      
Socio-demokrasi
(Demokrasi/ Kerakyatan, dan Kesejahteraan Sosial); dan
3.       Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa


Syarat mutlak dapat diwujudkannya Etika Bisnis Pancasila adalah mengakui terlebih dahulu Pancasila sebagai ideologi bangsa, sehingga asas-asasnya dapat menjadi pedoman perilaku setiap individu dalam kehidupan ekonomi dan bisnis sehari-hari. Baru sesudah asas-asas Pancasila benar-benar dijadikan pedoman etika bisnis, maka praktek-praktek bisnis dapat dinilai sejalan atau tidak dengan pedoman moral sistem Ekonomi Pancasila.




Prof. Dr. Mubyarto :
Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro Ekonomika


Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Etika Bisnis dan Ekonomi Moral, Jakarta, 5 Maret 2002.






Pertumbuhan Mobile Business di Asia Pasifik Tercepat

Kamis, 29 Oktober 2009 - 09:16 wib
Susetyo Dwi Prihadi - Okezone



TOKYO - Kawasan Asia Pasifik mengalami peningkatan jumlah pelanggan mobile business yang signifikan, pertumbuhannya bahkan mencapai pada 4.2 persen sepanjang 2009 ini.

Salah satu faktor yang menjadikan industri yang tergolong selular ini melesat, adalah meningkatnya pertumbuhan perekonominan di India dan China, bahkan dalam riset yang dilakukan ABI Research pertumbuhan pelanggan mobile business bisa mencapai 300 juta orang pada tahun 2014 nanti.

"Permintaan dan penawaran driver yang datang secara bersamaan untuk mengembangkan basis pelanggan bisnis mobile. Jaringan yang diperluas dan terus di-upgrade dari 3G ke 4G, menjadi salah satu faktor," jelas Direktur ABI Research Dan Hershey, seperti yang dilansir melalui Softpedia, Kamis (29/10/2009).

"Selain itu, terdapat peningkatan ekonomi dengan layanan yang sangat mobile juga karena faktor berpendidikan, dan tenaga kerja rendah. Akhirnya, Asia-Pasifik berada dalam posisi terbaik untuk mempercepat keluar dari krisis keuangan dunia dan tumbuh secara ekonomi," tambahnya.

Penelitian juga memperkiraan kedepannya layanan mobile, termasuk suara, pesan, akses informasi, aplikasi, aplikasi lini bisnis, mobile broadband dan layanan manajemen perangkat mobile, dan juga pada ARPU akan terus mengalami peningkatan di kawasan ini. (tyo)

Sumber:

Pelajaran dari Kasus Prita

Rabu, 10 Juni 2009 | 09:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Konflik merupakan peristiwa yang biasa terjadi di setiap organisasi atau perorangan. Konflik muncul karena organisasi terdiri atas sekelompok orang yang berinteraksi secara internal dan eksternal. Sementara itu, bagi perorangan, konflik muncul karena orang harus berinteraksi dengan orang lain atau dengan organisasi. Di pihak lain, orang-seorang atau organisasi perlu membangun dan menjaga kredibilitas dan reputasi sebagai bagian penting dalam interaksi dengan pihak lain. Bagaimana mengelola konflik, memenangi persaingan dengan tetap menjaga reputasi, membutuhkan kiat tersendiri. Beberapa kasus cenderung mengambil satu sisi saja, yakni memenangi konflik dengan mengabaikan kredibilitas dan reputasi.

Konflik pada dasarnya adalah pertentangan kebutuhan, perbedaan nilai, atau tarik-menarik kepentingan yang bisa bersifat kelompok atau individual. Dalam bidang politik, konflik yang tajam bisa mewujud dalam bentuk pembangkangan, revolusi, dan perang. Kepentingan yang berbeda di dalam tubuh partai politik bisa menimbulkan keretakan politik, perpecahan internal, dan pembangkangan kader politik atau kelompok kader politik. Pada era pemilihan presiden seperti sekarang, kita menyaksikan perbedaan kepentingan yang ditandai dengan pembangkangan atau perselingkuhan politik. Semua yang terjadi telah mengabaikan kredibilitas dan reputasi, baik untuk individu tersebut maupun partai politiknya.

Dalam konteks sosial, untuk memenangi konflik, banyak terjadi penggunaan kekerasan dan pemanfaatan kekuasaan untuk memenangi konflik tersebut. Dalam beberapa hal telah terjadi pemanfaatan kekuasaan, penaklukan hukum dan keadilan, serta pelayanan publik untuk memenangi sebuah konflik. Sama dengan yang terjadi di bidang politik, pada umumnya semua pihak yang terlibat dalam konflik mengabaikan aspek kredibilitas dan reputasi.

Konflik sering kali berlangsung tidak secara independen. Sebuah konflik, apa pun sifatnya, bisa menyeret orang lain atau pihak lain serta dampak yang ditimbulkan akan meluas dan melibatkan orang-seorang yang tidak terkait sama sekali tapi memiliki kepentingan yang sama. Bahkan kelompok ini melibatkan diri secara emosi dengan salah satu pihak dalam konflik tersebut. Publikasi konflik yang luas malah mengakibatkan eskalasi dan akan membangun polarisasi pendapat, kepentingan, nilai, dan emosi senasib atau karena perasaan "me too".

Peran media
Dalam beberapa kasus, benturan kepentingan, perbedaan nilai, perbedaan pandangan, dan diskomunikasi makin memperuncing konflik. Tak bisa dimungkiri bahwa dalam situasi seperti itu, medium paling ampuh dalam penyebaran informasi tentang konflik adalah media. Bagi media, konflik adalah ramuan utama untuk membuat berita. Syukur kalau konflik tersebut memiliki sisi-sisi emosi, kemanusiaan, dan kontroversi serta melibatkan emosi orang banyak!
Media cetak, karena sifatnya yang harus terbit secara teratur pada waktu tertentu, memiliki kelebihan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, kemudian mempublikasikan informasi tentang konflik tersebut dalam bentuk lebih investigatif, lebih komprehensif dengan berbagai sisi. Sementara itu, radio dan televisi, dengan karakternya yang bisa menampilkan stop press atau breaking news kapan saja, memanfaatkan waktu untuk sesegera mungkin menyebarkan informasi, terutama dengan ramuan konflik yang kontroversial serta mengaduk-aduk emosi publik.

Seiring dengan perkembangan pesat teknologi informasi, media baru, seperti SMS, e-mail, blog, Facebook, Twitter, dan Yahoo Messenger, ikut pula meramaikan penyebaran informasi tentang konflik. Media jenis ini menyebarkan informasi jauh lebih cepat dan tanpa batas melebihi media cetak, radio, dan televisi. Kasus Manohara Odelia Pinot dengan cepat bisa dipantau dan diikuti di seluruh dunia pada detik yang sama dengan ketika informasi tersebut ditulis. Kasus pendudukan hotel di Mumbai, India, menyebar cepat melalui Twitter.
Konflik memang informasi yang menggiurkan untuk disebar. Konflik juga sangat terbuka untuk dibumbui dengan berbagai informasi spekulatif, gosip, hingga yang mengada-ada. Penyebar informasi konflik bahkan merasa dialah yang terdepan menyebarkan informasi tentang konflik tersebut.

Proses hukumSesungguhnya sebagian besar pihak yang terlibat dalam konflik paham bahwa solusi terbaik keluar dari konflik adalah win-win dibanding dua pilihan lain, yaitu win-lose, apalagi lose-lose. Tapi desakan nafsu untuk memenangi konflik sering kali lebih kuat mengalahkan kematangan kalkulasi untuk mengatasi konflik dengan jalan keluar win-win. Lebih jauh, desakan nafsu memenangi konflik meninabobokan pihak yang terlibat dalam konflik dengan mengabaikan kredibilitas dan reputasi.

Beberapa faktor mendukung nafsu untuk memenangi konflik dengan cara menang atau win-lose. Salah satu alasan mengambil langkah ini adalah anggapan bahwa menang dalam konflik berarti menang segalanya karena berhasil menjaga, mempertahankan, atau menguasai kepentingan yang diperjuangkan. Untuk mencapai tekad itu, berbagai manuver harus ditempuh untuk memenangi konflik, termasuk menghalalkan penggunaan kekerasan, penistaan etika, pemanfaatan kekuasaan, dan pengingkaran atau pembelokan hukum demi kemenangan.

Kemenangan secara hukum memang penting karena bisa jadi landasan legalistik. Namun, orang melupakan bahwa ada aspek penting lain yang harus mereka perhitungkan dalam mencari jalan keluar dari konflik: menjaga kredibilitas dan reputasi. Pemaksaan untuk menang, penistaan etika, dan pembelokan hukum merupakan hal-hal yang merusak kredibilitas dan reputasi. Siapa pun bisa mengabaikan dan meremehkan pentingnya menjaga kredibilitas dan reputasi. Tapi dunia sudah berubah dan makin menyadari bahwa kredibilitas dan reputasi merupakan bagian integral dalam berinteraksi dengan kelompok lain.

Kemenangan secara hukum tidak berarti terjaganya kredibilitas dan reputasi. Apalagi jika hukum dibelokkan untuk menang. Para penegak hukum tidak akan pernah mampu menegakkan hukum jika mereka sendiri melanggarnya! Publik kadang memiliki ingatan pendek tentang konflik karena banyaknya kasus yang muncul. Mereka segera lupa berbagai tindakan tanpa etika yang dilakukan sebuah institusi atau perorangan akibat terlalu banyaknya informasi yang harus mereka terima. Tapi harus diingat bahwa catatan perilaku organisasi atau perseorangan tetap tersimpan. Bahkan, dengan kemajuan teknologi informasi, seluruh catatan tentang perilaku dan etika lembaga atau perorangan tetap tersedia untuk dikutip di masa depan. Ini memungkinkan penggalian data di masa datang tentang orang-seorang atau suatu lembaga. Dan ini akan menjadi rekam jejak penting di masa depan tentang kredibilitas dan reputasi.

Halim Mahfudz, CEO/pendiri Halma-Strategic, perusahaan public relations

Politik Uang Makin Marak dalam Kampanye

Senin, 25 Mei 2009 | 22:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Lembaga pemerhati korupsi, Indonesia Corruption Watch, menemukan 150 politik uang selama masa kampanye. Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch, Ibrahim Fahmi Badoh, mengatakan temuan ini berdasarkan pemantauan di empat kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.

"Terjadi peningkatan dibanding penelitian pada Pemilihan 2004 di 11 daerah," kata Fahmi dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (25/5).

Menurut Fahmi, modus terbanyak politik uang adalah pembagian uang secara langsung yang mencapai 113 kasus. Sisanya antara lain melalui pembagian bahan pokok sebanyak 16 kasus, pembagian kartu telepon seluler lima kasus, pemberian barang elektronik sebanyak delapan kasus.

Fahmi menilai terjadi pergeseran pelaku dan modus kecurangan. Pelaku kecurangan pada Pemilihan 2004 didominasi oleh partai politik, sedangkan pada masa kampanye 2009 politik uang lebih banyak dilakukan oleh para calon legislator. "Besar kemungkinan sistem suara terbanyak meningkatkan jumlah politik uang," ujarnya.

ICW juga mencatat selama masa kampanye terjadi 54 indikasi penyalahgunaan jabatan. Kasus paling banyak, yaitu 26 kasus, merupakan mobilisasi pegawai negeri sipil. Berikutnya, penggunaan kendaraan dinas sebanyak 13 kasus, dan penggunaan rumah pelibatan pejabat daerah dalam kampanye sebanyak tiga kasus.

Mobilisasi pegawai negeri dan penggunaan fasilitas jabatan, kata Fahmi, merupakan indikasi korupsi. Pasalnya, fasilitas jabatan dan pegawai negeri dibiayai oleh anggaran negara.

Mantan anggota Panitia Pengawas Pemilihan Umum, Topo Sansotos, mengatakan meski laporan dana kampanye dipenuhi kecurangan, sulit menindaknya secara pidana. Pasalnya, Kepolisian dan Kejaksaan sudah menutup pintu penindaklanjutan pidana pemilihan. "Jadi memang pelaporan dana kampanye hanya bersifat normatif," ujarnya.

Topo juga menilai maraknya indikasi korupsi dan politik uang menunjukkan ketidaksiapan penyelenggara pemilihan, pengawas, penegak hukum, dan juga masyarakat dalam menghadapi modus baru kejahatan kampanye.

Ketidaksiapan ini salah satunya disebabkan perubahan kerangka hukum penyelenggaraan pemilihan. "Sistem suara terbanyak, misalnya, mengakibatkan munculnya aktor kejahatan baru, yaitu para calon legislator," ujarnya.

PRAMONO

Sumber: 
http://www.tempointeraktif.com/hg/Pemilu2009_berita_mutakhir/2009/05/25/brk,20090525-178077,id.html