Jumat, 01 Januari 2010

Bahaya Plastik Bagi Kesehatan

Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut.
Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A.
Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.
Apakah arti dari simbol-simbol yang kita temui pada berbagai produk plastik?
#1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan #1 dan #2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.
#2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti #1 PET, #2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
#3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
#4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode #4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan #4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.
#5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.
#6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.
#7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.
Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.
Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya.
Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.
Semoga informasi ini bermanfaat.

Diterbitkan di: September 16, 2008

Sumber: 

Bahaya Plastik Daur Ulang, Diperingatkan BPOM

indosiar.com, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Selasa (14/07/09) kemarin, memperingatkan masyarakat akan bahaya pengguna kantong plastik daur ulang dan kemasan makanan berbahan PVC. Kemasan dari bahan PVC ini dinyatakan mengandung logam berat atau timbal yang bisa mengakibatkan kanker hati dan merusak sistem syaraf.

Dalam keterangan persnya kemarin siang Ketua BPOM Huzniah Rubiana Thamrin mengatakan, kantong plastik kresek berwarna hitam kebanyakan merupakan produk daur ulang yang diproses dengan menambahkan berbagai bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Dan ironisnya kantong kresek daur ulang itu justru banyak digunakan masyarakat untuk kantong makanan siap santap.

Badan Pengawas Obat dan Makanan juga memperingatkan masyarakat agar tidak menggunakan kemasan makanan dari bahan plastik PVC (Polivinil Chlorida) karena mengandung logam berat atau timbal.

Dari hasil uji laboratorium yang dilakukan BPOM, ditemukan satu jenis kemasan plastik yang tidak memenuhi syarat keamanan karena mengandung timbal hingga 8,69 PPM seperti tutup kue transparan berbentuk silinder. (Winduti Astuti/Andi Nugroho/Sup)

Industri Berbasis Etika Bisnis Nasionalis

24 Agustus 2007

Bisnis berbasis teknologi memang bukan hal mudah. Apalagi di Indonesia yang teknologi lokalnya jarang dilirik orang. Namun tidak berarti kita harus melupakan etika bisnis. Ada yang namanya etika bisnis nasionalis.

Teknologi memang bukan merupakan produk unggulan dari negeri kita, namun bukan berarti tidak dibutuhkan dalam setiap roda kegiatan yang berputar. Sementara ini produk teknologi yang digunakan di dalam negeri kebanyakan disuplai dari negeri orang lain. Yang di sebut sebagai konten lokal walau selalu digembar-gemborkan dan bahkan sudah menjadi sebuah peraturan, kenyataannya tetap hanya menyisakan sedikit ruang bagi karya-karya anak bangsa.

Mengapa bisa begitu? Penulis mencoba menganalisa faktor penyebabnya.
  1. Kebijakan belanja teknologi belum terutama disebabkan atas perencanaan kedepan yang strategis. Seringkali pengadaan atau pembuatan sistem berbasis teknologi lebih dimotivasi kuat oleh faktor yang bersifat kuratif.
  2. Kita sendiri memang tidak mampu menyediakan sebuah solusi yang 100% bikinan dalam negeri. Rantai komponen atau produk yang bersifat kompleks dalam sistem yang dibangun masih belum bisa ter-rakit di dalam negeri. Memang mungkin negara lain juga tidak bisa, namun untuk Indonesia dampak negatifnya lebih pada sikap under-estimate terhadap teknologi dalam negeri. Konten yang kecil yang merupakan karya anak bangsa masih belum dibanggakan dengan serius.
  3. Memproduksi sendiri semua komponen justru tidak ekonomis. Mengingat produksi selalu memiliki konteks yang sensitif harga yaitu skala produksi.Memang tidak mudah untuk membangun pasar sambil berinvestasi pada proses produksi. Hal ini sama dengan judi taruhan tinggi. Atau memiliki visi yang sangat tajam akan komoditas tersebut di masa depan.
  4. Sebuah sistem yang lengkap membutuhkan berbagai bidang teknologi, dari hal yang bersifat hardware, firmware, hingga software. Orang-orang pintar di negeri ini lebih suka single fighter, one man show, sehingga sinergi antara penguasa beberapa bidang teknik kurang bisa terbentuk dalam tataran natural.
  5. Pengembangan selalu butuh waktu, padahal proyek biasanya dikejar waktu. Karena memang sifatnya bahwa setiap sistem berbasis teknologi memiliki kualifikasi yang harus memenuhi kebutuhan user, maka belum tentu tersedia produk-produk final yang sudah ada pada waktu atau kesempatan yang sesuai.
Proyek besar ataupun kecil di Indonesia biasanya berawal dari sesuatu isu yang lebih bersifat politis. Seorang pejabat dalam sebuah institusi, baik perusahaan atau pemerintah, mendapat tekanan dari atasan atas suatu isu tertentu.Dalam rangka menjaga posisinya beliau lalu memerintahkan agar diselenggarakan sebuah proyekuntuk mengatasi tekanan ini. Alhasil kebutuhan ini terdefinisikan sebagai sebuah reaksi, bukan sebagai wujud aksi strategis terencana yang positif.

Etika Bisnis Nasionalis

Bagaimana caranya kita bisa menjalankan pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang baik namun tidak menabrak etika-etika bisnis yang nasionalis? Terminologi nasionalis di sini digunakan dengan maksud bahwa para enterpreneur juga mempertimbangan kepentingan bangsa yang lebih luas. Penulis sendiri tidak punya resep-resep jitu yang bisa terbukti ampuh untuk memperbaiki keadaan negeri kita.

Namun dengan hati yang tulus dan niat yang baik kita bisa mengumpulkan rambu-rambu etika yang kondusif bagi perkembangan bisnis berbasis teknologi di tanah air. Semuanya harus berangkat dari tataran moralitas baru bisa menjadi landasan yang kuat untuk gestur-gestur yang lebih besar. Dengan berlaku demikian kita ikutan membangun moralitas bangsa kita dan selanjutnya merupakan kontribusi kita memperbaiki negeri kita ini, dimulai dari diri kita dan perusahaan kita masing-masing.

Contoh etika bisnis nasionalis adalah, sebelum memulai pekerjaan jangan terlalu banyak bicarakan soal pembagian profit. Rencanakan saja dengan margin yang cukup baik. Hindari usaha greedy merebut pekerjaan hanya alasan margin yang kelewat besar tapi belum tentu bisa menyelesaikan. Bila harus ada “kick-back“,usahakan dilakukan setelah semua pekerjaan selesai dilakukan dengan hasil “everybody happy“, penghitungannya bisa berdasarkan model bonus atas kontribusi.

Perencanaan solusi teknologi sebanyak mungkin menggunakan apa yang sudah dibuat di dalam negeri. Beri kesempatan untuk tidak hanya bikinan sendiri, namun juga rekan lain di dalam negeri. Cari relasi komplemen dalam negeri untuk melengkapi sistem, hardware, firmware, middleware, hingga software. Sinergi saling melengkapi akan sangat mendukung dan membantu dalam pelaksanaan setiap pekerjaan. Sinergi juga akan meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan solusi-solusi yang kreatif.

 
 

Bisnis Syariah dan Pemberdayaan UMKMK

30 October 2003 00:00

Setelah sektor perbankan sukses menerapkan konsep syariah yang dimotori oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI), kini konsep tersebut mulai merambah sektor ekonomi lainnya seperti asuransi, pasar modal, obligasi, reksadana, pegadaian, modal ventura, dan pasar uang. Tidak tertutup kemungkinan konsep syariah juga akan mewarnai bisnis di sektor riil, termasuk kalangan pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK).
Maraknya penerapan konsep syariah itu bukanlah semata karena trend yang sifatnya temporal. Karena konsep syariah mempunyai kekuatan berupa prinsip-prinsip yang abadi sejalan dengan fitrah manusia itu sendiri. Beberapa prinsip itu antara lain:

1. Bisnis berbasis syariah menempatkan kepentingan dunia dan akhirat secara berimbang, sehingga manusia tidak semata dilihat sebagai zoon economicon (semata untuk mencari kepuasan materi) tetapi juga melihat keberhasilan di dunia ini sebagai jembatan emas menuju kebahagian di akhirat (fiddunnya hasanah wafilaakhirati hasanah).
2. Bisnis syariah lebih berwawasan lingkungan, karena dalam menjalankan aktivitasnya tidak boleh melakukan kerusakan (wala tufsidu filardh).
3. Bisnis syariah didasarkan pada kejujuran (shiddiq), sehingga pihak yang terlibat tidak khawatir ditipu atau dikhianati. “Pedagang (pengusaha) yang jujur lagi terpercaya, akan dibangkitkan dan dimasukkan ke surga bersama-sama dengan para nabi dan syuhada.” (HR. Tarmidzi dan Hakim).
4. Amanah, sehingga semua kewajiban dan tanggung-jawab dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
5. Bisnis syariah tidak mengenal sikap atau tindakan yang spekulatif dan manipulatif.
6. Bill hasanah, dengan kebaikan, sehingga tidak menganal praktek sogok-menyogok, kolusi, unfair competition, monopoli dan lain-lain.
7. Bisnis syariah juga mencakup tanggungjawab sosial (social responsibility), bahwa keuntungan yang diperoleh tidak seluruhnya menjadi hak pengusaha tetapi juga ada hak bagi orang lain yang harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infaq dan sadaqah.
 
Dalam sistem perekonomian global, konsep ekonomi syariah juga telah teruji ketangguhannya. Sebagai contoh, ketika hampir semua bisnis konvensional mengalami kesulitan pada saat krisis melanda beberapa negara termasuk Indonesia, ternyata kondisi itu tidak terjadi di Malaysia yang lebih dahulu menerapkan prinsip ekonomi syariah. Dengan kata lain, konsep yang selama ini melandasi bisnis modern, baik ekonomi kapitalis maupun sosialis, ternyata hanya menghasilkan kemakmuran semu.
World Bank dan IMF juga telah mengkaji kemungkinan pemberian pinjaman dengan menggunakan prinsip syariah setelah dianggap gagal memulihkan ekonomi negara-negara berkembang yang umumnya negara Islam. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi syariah tidak hanya baik karena prinsip moralnya, tetapi juga baik dari segi pendekatan bisnis itu sendiri.
Pertimbangan lain untuk menggagas bisnis yang berbasis syariah dilandasi oleh suatu kenyataan semakin mengkristalnya dikotomi antara bisnis dan moral. Hal ini erat kaitannya dengan prinsip ekonomi global berdasarkan paham kapitalis-liberal yang hanya melihat kebutuhan manusia dari aspek fisik (materialisme), sehingga bisnis menjadi sangat pragmatis, individualis, dan eksploitatif.
Adam Smith yang dikenal sebagai Bapak Ekonomi, secara jelas mengatakan bahwa transaksi ekonomi (jual beli) yang terjadi antara pembeli dengan penjual bukan karena suatu kebaikan, tetapi karena keserakahan masing masing pihak. Implikasinya dalam kehidupan bisnis adalah munculnya pragmatisme yang menganggap:
1. Bisnis itu immoral, bahwa bisnis adalah dunia yang kotor dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
2. Bisnis itu amoral, bahwa bisnis adalah aktifitas yang netral secara moral. Moral dan bisnis merupakan dua dunia yang berbeda. Bagi para pelaku bisnis, moral adalah urusan pribadi, dan dunia bisnis mempunyai kode etik tersendiri.
3. Business of business is business, bahwa tugas bisnis (produksi, distribusi, penjualan, dan pembelian barang dan jasa) adalah untuk memperoleh keuntungan (maksimalisasi laba) dan menolak segala menyangkut tanggung jawab sosial dari perusahaan.

Konsekwensi bisnisnya adalah munculnya kelompok-kelompok yang kaya dan kuat disatu pihak dan kelompok-kelompok yang lemah dilain pihak. Dalam konteks antar-negara, ada kelompok negara-negara kaya (industri maju atau kelompok G-7) dan kelompok negara-negara miskin (negara berkembang atau kelopok selatan-selatan). Dalam dunia bisnis lahirlah perusahaan-perusahaan multinasional (multinational corporation) yang berkantor pusat di negara kuat (kaya) tetapi kegiatan usahanya menggurita ke negara-negara miskin. Belum lagi badan-badan dunia seperti PBB, IMF, dan World Bank, yang kesemuanya bertujuan untuk melanggengkan eksploitasi negara-negara kuat (kaya) terhadap negara-negara miskin.
Dalam lingkup nasional, telah lahir konglomerasi yang menguasai semua aspek bisnis, mulai dari hulu sampai hilir, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi (UMKMK). Dengan kondisi seperti itu, sulit bagi UMKMK untuk tumbuh dan berkembang, sehingga kelompok (orang) yang kaya akan semakin kaya dan kelompok yang miskin akan semakin miskin. Akibatnya, kesenjangan ekonomi semakin melebar, sehingga menimbulkan potensi konflik yang setiap saat bisa mengganggu perekonomi.
Kondisi seperti inilah yang telah menyeret Indonesia ke dalam krisis multidimesi yang berkepanjangan. Malahan di saat seluruh potensi dikerahkan untuk bangkit dari keterpurukan, Indonesia justru dihadapkan dengan berbagai konflik horizontal yang terjadi silih berganti. Semua kejadian itu bukan suatu kebetulan, tetapi merupakan dampak dari penerapan sistem perekonomian yang tidak bersumber pada nilai-nilai fitrah manusia.
Oleh karena itu, dalam upaya menata kembali perekonomian nasional, sudah saatnya untuk terlebih dahulu mengupayakan penerapan konsep bisnis syariah, dengan menempatkan UMKMK sebagai pelaku utamanya. Dengan melaksanakan konsep bisnis syariah dalam lingkup UMKMK, diharapkan akan mampu membangkitkan kembali perekonomian nasional. Hal tersebut cukup beralasan karena didasarkan atas pertimbangan sbb: 
 
1. Keberhasilan di sektor-sektor ekonomi lainnya yang telah lebih dahulu berbasis syariah, seperti sektor perbankan dan asuransi.
2. Kondisi sosiokultural masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dan merupakan masyarakat muslim terbesar di dunia.
3. Ditopang dengan etika bisnis, berdasarkan prinsip moralitas yang memberikan aturan dan petunjuk kongkrit bagi manusia untuk berprilaku baik dan menghindari perilaku yang tidak baik.
4. Mulai dirasakan pentingnya etika dan moral dalam interaksi bisnis, termasuk dalam bisnis global.
5. Dimungkinkan penyelesaian atas sengketa bisnis dengan prinsi-prinsip syariah, yakni melalui BAMUI (Badan Arbitrase Muamalat Indonesia).  

Diharapkan dengan penerapan prinsip ekonomi berbasis syariah sebagai upaya penguatan ekonomi kerakyatan, akan mampu memperkokoh sendi-sendi perekonomian nasional dimana UMKMK sebagai pondasi utamanya. Dengan sendirinya kesenjangan ekonomi bisa dipersempit, sehingga energi untuk menangani konflik-konflik horizontal bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan.

*) Oleh Suryaddin (Penulis adalah Karyawan PNM Cabang Makassar) 
 
 
 

Google Merasa Tersaingi Groovle

Jum'at, 1 Januari 2010 - 19:11 wib

Rachmatunnisa - Okezone 
 (Foto: Groovle)
 

LONDON - Perusahaan mesin pencari raksasa, Google, merasa keberatan dengan munculnya Groovle.com. Mesin pencari informasi gratis itu, telah sengaja menyerupai Google dari segi tampilan dan tata letak laman.
 
Google menyebutkan sebanyak 207 perusahaan asal Kanada yang tergabung memiliki Groovle dengan jelas memilih nama itu untuk membuat kesamaan yang membingungkan. Google sepakat, pengambilan nama domain tersebut harus terlebih dulu mentransfer data-data ke Google.
 
Menanggapi sengketa ini, mediator dari National Arbitration Forum (NAF) mengatakan bahwa Google tidak perlu  memberikan bukti apapun  atas kebingungan yang sedang terjadi. Tim mediasi setuju dengan sanggahan yang diberikan oleh perusahaan asal Kanada tersebut, yang berpendapat bahwa nama Groovle lebih mirip dengan groove atau groovy ketimbang nama Google. Demikian keterangan yang dikutip dari Telegraph, Jumat (1/1/2010).
 
Pemberian nama domain dapat dibatalkan atau dipindahkan ke perusahaan lain bila tidak memperhatikan tiga unsur yang haram untuk dilanggar ini. Pertama, pemberian nama domain memiliki kesamaan identik dan membuat bingung. Kedua, pemilik nama domain tidak memiliki hak paten untuk memilikinya. Ketiga, pihak yang merasa dirugikan harus menunjukkan bahwa tujuan kemunculan domain itu terkategori menjatuhkan dengan kesengajaan.
 
Mediator NAF memutuskan bahwa keberatan yang disampaikan Google dianggap gagal membangun ketiga unsur tersebut. Dengan kata lain, kehadiran Groovle.com dinyatakan tidak memberatkan domain perusahaan lain.
Terdapat sebuah pesan di bagian bawah laman Groovle yang mengatakan "Groovle.com tidak dimiliki, disponsori atau didukung oleh Google". Namun tidak diketahui apakah keterangan ini telah ditambahkan semenjak keputusan NAF dikeluarkan atau tidak. (rah)

Pentingnya Etika Bisnis

Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

BANYAK eksekutif bisnis menganggap kultur korporat yang mereka pimpin, adalah sesuatu yang mereka inginkan. Mereka membuat lokakarya untuk mendefinisikan nilai-nilai dan proses-proses, menuliskan misi dan tujuan perusahaan pada poster, menyediakan sesi-sesi orientasi untuk pegawai baru, guna menjelaskan tujuan perusahaan dan lain-lain. Bahkan, ada yang mencetak statement nilai-nilai perusahaan di balik kartu identitas sebagai pengingat bagi para pegawai.

Semua itu memang penting dilakukan. Namun, ada hal yang lebih penting yang kerap dilupakan pemimpin bisnis. Kultur perusahaan sebenarnya didefinisikan oleh perilaku para eksekutif. Pegawai meniru perilaku bos karena boslah yang menilai, menggaji, dan mempromosikan mereka. Maka, para pemimpin tertinggi pada akhirnya bertanggung jawab atas kultur organisasinya, termasuk kultur etikanya.

Memang benar, pegawai secara individual bertanggung jawab atas perbuatannya. Mereka digerakkan seperangkat nilai-nilai atau prinsip-prinsip internal sendiri. Namun, ketika urusan perut, kedudukan, dan kekuasaan yang menjadi taruhan, orang akan melakukan apa saja agar berhasil. Terlalu sedikit orang yang punya nyali mengambil risiko bagi diri dan keluarga demi prinsip, terutama jika konsekuensinya tampak kecil, samar, dan tak terdeteksi.

Di sinilah strategisnya peran pemimpin. Agar pegawai bertindak sesuai prinsip, suatu organisasi bisnis harus dipimpin eksekutif yang bersungguh-sungguh membuat keputusan, tidak hanya menurut batasan-batasan bisnis dan legal, tetapi juga batasan-batasan etis. Secara sepintas, untuk menegakkan etika yang bagus sepertinya menghabiskan uang. Padahal, kepemimpinan yang etis justru bisa menghemat uang. Cobalah renungkan peran kualitas dalam bisnis. Sebagian besar industri Amerika sebelum 1970-an, menganggap produk dan jasa yang berkualitas terlalu mahal untuk diproduksi. Lalu, ada satu pelajaran besar yang diajarkan kepada industri Amerika oleh industri Jepang. Ironisnya, industri Jepang belajar dari ahli statistik Amerika, William Edwards Deming.

Pada 1947, Deming dikirim ke Tokyo untuk menjadi penasihat Markas Pasukan Sekutu, mengenai penerapan teknik sampling yang dikembangkannya. Di sana, dia berkesempatan bertemu dengan manajer Jepang, yang punya hubungan baik dengan Keindanren, serikat buruh besar di negara itu. Para manajer terpikat pada teori-teori manajemen Deming, yang mereka dengar sebelum perang. Mereka pun mengundangnya untuk memberi kuliah dan berbicara dalam seminar-seminar. Singkat cerita, industri Jepang mengadopsi teori-teori manajemen Deming dan sepuluh tahun kemudian, produk-produk Jepang mulai mengalir ke AS.

Konsumen AS tak salah, sebab barang-barang Jepang memang lebih bagus dan lebih murah. Itulah titik balik sejarah dunia. Kini, perusahaan otomotif, elektronik, dan semikonduktor Jepang, benar-benar menikmati hasil pelajaran itu. Industri Jepang bisa mendominasi pasar dunia dalam hal kepuasan pelanggan, dengan biaya manufaktur yang paling rendah. Pelajaran besar yang diajarkan industri Jepang adalah tentang imbalan dari biaya (baca, komitmen) kepada kualitas dan pelayanan kepada konsumen.

Paradigma peran kualitas itu juga berlaku pada etika. Pelaksanaan etika yang buruk, bisa mengarah kepada kerugian finansial. Ilustrasinya, ketika suatu perusahaan mematok keuntungan terlalu tinggi dan mengeksploitasi konsumen, maka prinsip pertama makro ekonomi akan berlaku. Ketika rate of return berlebihan, maka kompetitor masuk untuk mengoreksinya. Kompetitor menekan harga turun, menghasilkan profit subnormal, bahkan kerugian dan pada akhirnya perusahaan yang paling tidak efisien akan tersingkir dari pasar.

Bukan suatu kebetulan bila secara empiris, etika berkorelasi dengan rate of return. Perhatikanlah, nilai investasi di perusahaan-perusahaan AS yang menjunjung tinggi komitmen tanggung jawab sosial, naik secara tajam pada tahun 1995-1997. Aset-aset di perusahaan seperti itu –tidak termasuk perusahaan tembakau, senjata, atau perusahaan yang dikritik karena praktik perburuhan mereka— naik 227 persen dalam dua tahun (dari 162 miliar dolar AS menjadi 529 miliar dolar AS). Ini sangat mengesankan, mengingat pada periode yang sama, pasar secara keseluruhan tumbuh hanya 84 persen dan S&P hanya 60 persen.

Tidak berlebihan bila dikatakan, kelangsungan suatu organisasi bisnis akan ditentukan seberapa kuat penegakan etika di dalamnya. Kultur etika organisasi bergantung kepada pemimpinnya.

Selama ini, banyak orang salah memahami arti kepemimpinan. Umumnya, orang melihat pemimpin adalah kedudukan atau posisi semata, sehingga banyak orang mengejarnya dengan menghalalkan segala cara. Ada yang membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing atau teman, dan sebagainya. Pemimpin hasil dari cara seperti itu, akan selalu menggunakan kekuasaannya dalam mengarahkan, memperalat, bahkan menguasai orang lain, agar orang lain mengikutinya. Pemimpin jenis ini, umumnya suka menekan, dan sebagai akibatnya, dia bukan pemimpin yang dicintai. Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin mereka, tetapi Anda tidak bisa memimpin orang lain dengan efektif tanpa mencintai mereka.

Penulis ingin menekankan kembali, tak ada alasan untuk mempertanyakan apakah spiritualitas seharusnya ada di tempat kerja atau tidak. Sebab, nilai-nilai spiritualitas itu sesungguhnya masuk ke tempat kerja bersama manusia-manusianya. Setiap manusia diciptakan dengan kecerdasan spiritual atau suara hati, yang bersumber dari 99 Sifat Mulia Allah SWT (Asmaul Husna). Dengan demikian, tugas utama pemimpin adalah menghidupkan suara hati dalam dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya. Karena suara hatilah potensi tertinggi setiap manusia.***


Walt Disney Tuntaskan Akuisisi Marvel USD4,24 M

Jum'at, 1 Januari 2010 - 16:06 wib

Widi Agustian - Okezone


NEW YORK - Walt Disney Co telah menyelesaikan akuisisinya atas Marvel Entertainment Inc dengan nilai USD4,24 miliar.

Dengan demikian, ikon seperti Spider-Man, Iron Man serta lima ribu karakter lainnya milik Marvel, akan bergabung dengan Mickey Mouse dan Donald Duck di Walt Disney.

"Akuisisi tersebut akan membuat revenue dan laba Disney tumbuh. Karena kreativitas dan bisnis yang potensial merupakan kombinasi yang subtansial," kata Chief Executive Marvel Isaac Perlmutter (Ike) seperti dilansir dari Associated Press (AP), Jumat (1/1/2010).
                                                                                      Ilustrasi: Spiderman (Foto: Associated Press)

Transaksi tersebut selesai lebih awal dari yang diperkirakan, yakni pada Kamis waktu setempat. Ternyata Ike, yang memiliki sebanyak 37 persen saham Marvel, mendukung transaksi tersebut. Pasalnya, pascaakuisisi tuntas, Ike akan memimpin unit bisnis Marvel, dan akan melaporkan langsung kepada CEO Disney, Robert Iger.

Terkait dengan transaksi tersebut, pemegang saham Marvel akan menerima USD30 per saham, ditambah dengan 0,7452 lembar saham Disney bagi setiap lembar saham Marvel yang dimilikinya.

Transaksi tersebut merupakan transaksi Disney yang terbesar sejak Disney mengakuisisi Pixar Animation Studios Inc, yakni senilai USD7,4 miliar pada 2006 lalu.

Tak hanya itu, Disney juga akan mengambil sebanyak 10 persen saham dari POW! Entertainment Inc dengan nilai USD2,5 juta.

Perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang dipimpin oleh pembuat karakter Spider-Man, Stan Lee. Ia mengatakan pihaknya telah membina hubungan selama tiga tahun dengan Disney, yakni dengan memberikan hak yang lebih besar terhadap output kreatif dan eksklusif layanan konsultasi. (wdi)(rhs)

Sumber: