Jumat, 01 Januari 2010

Pertumbuhan Mobile Business di Asia Pasifik Tercepat

Kamis, 29 Oktober 2009 - 09:16 wib
Susetyo Dwi Prihadi - Okezone



TOKYO - Kawasan Asia Pasifik mengalami peningkatan jumlah pelanggan mobile business yang signifikan, pertumbuhannya bahkan mencapai pada 4.2 persen sepanjang 2009 ini.

Salah satu faktor yang menjadikan industri yang tergolong selular ini melesat, adalah meningkatnya pertumbuhan perekonominan di India dan China, bahkan dalam riset yang dilakukan ABI Research pertumbuhan pelanggan mobile business bisa mencapai 300 juta orang pada tahun 2014 nanti.

"Permintaan dan penawaran driver yang datang secara bersamaan untuk mengembangkan basis pelanggan bisnis mobile. Jaringan yang diperluas dan terus di-upgrade dari 3G ke 4G, menjadi salah satu faktor," jelas Direktur ABI Research Dan Hershey, seperti yang dilansir melalui Softpedia, Kamis (29/10/2009).

"Selain itu, terdapat peningkatan ekonomi dengan layanan yang sangat mobile juga karena faktor berpendidikan, dan tenaga kerja rendah. Akhirnya, Asia-Pasifik berada dalam posisi terbaik untuk mempercepat keluar dari krisis keuangan dunia dan tumbuh secara ekonomi," tambahnya.

Penelitian juga memperkiraan kedepannya layanan mobile, termasuk suara, pesan, akses informasi, aplikasi, aplikasi lini bisnis, mobile broadband dan layanan manajemen perangkat mobile, dan juga pada ARPU akan terus mengalami peningkatan di kawasan ini. (tyo)

Sumber:

Pelajaran dari Kasus Prita

Rabu, 10 Juni 2009 | 09:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Konflik merupakan peristiwa yang biasa terjadi di setiap organisasi atau perorangan. Konflik muncul karena organisasi terdiri atas sekelompok orang yang berinteraksi secara internal dan eksternal. Sementara itu, bagi perorangan, konflik muncul karena orang harus berinteraksi dengan orang lain atau dengan organisasi. Di pihak lain, orang-seorang atau organisasi perlu membangun dan menjaga kredibilitas dan reputasi sebagai bagian penting dalam interaksi dengan pihak lain. Bagaimana mengelola konflik, memenangi persaingan dengan tetap menjaga reputasi, membutuhkan kiat tersendiri. Beberapa kasus cenderung mengambil satu sisi saja, yakni memenangi konflik dengan mengabaikan kredibilitas dan reputasi.

Konflik pada dasarnya adalah pertentangan kebutuhan, perbedaan nilai, atau tarik-menarik kepentingan yang bisa bersifat kelompok atau individual. Dalam bidang politik, konflik yang tajam bisa mewujud dalam bentuk pembangkangan, revolusi, dan perang. Kepentingan yang berbeda di dalam tubuh partai politik bisa menimbulkan keretakan politik, perpecahan internal, dan pembangkangan kader politik atau kelompok kader politik. Pada era pemilihan presiden seperti sekarang, kita menyaksikan perbedaan kepentingan yang ditandai dengan pembangkangan atau perselingkuhan politik. Semua yang terjadi telah mengabaikan kredibilitas dan reputasi, baik untuk individu tersebut maupun partai politiknya.

Dalam konteks sosial, untuk memenangi konflik, banyak terjadi penggunaan kekerasan dan pemanfaatan kekuasaan untuk memenangi konflik tersebut. Dalam beberapa hal telah terjadi pemanfaatan kekuasaan, penaklukan hukum dan keadilan, serta pelayanan publik untuk memenangi sebuah konflik. Sama dengan yang terjadi di bidang politik, pada umumnya semua pihak yang terlibat dalam konflik mengabaikan aspek kredibilitas dan reputasi.

Konflik sering kali berlangsung tidak secara independen. Sebuah konflik, apa pun sifatnya, bisa menyeret orang lain atau pihak lain serta dampak yang ditimbulkan akan meluas dan melibatkan orang-seorang yang tidak terkait sama sekali tapi memiliki kepentingan yang sama. Bahkan kelompok ini melibatkan diri secara emosi dengan salah satu pihak dalam konflik tersebut. Publikasi konflik yang luas malah mengakibatkan eskalasi dan akan membangun polarisasi pendapat, kepentingan, nilai, dan emosi senasib atau karena perasaan "me too".

Peran media
Dalam beberapa kasus, benturan kepentingan, perbedaan nilai, perbedaan pandangan, dan diskomunikasi makin memperuncing konflik. Tak bisa dimungkiri bahwa dalam situasi seperti itu, medium paling ampuh dalam penyebaran informasi tentang konflik adalah media. Bagi media, konflik adalah ramuan utama untuk membuat berita. Syukur kalau konflik tersebut memiliki sisi-sisi emosi, kemanusiaan, dan kontroversi serta melibatkan emosi orang banyak!
Media cetak, karena sifatnya yang harus terbit secara teratur pada waktu tertentu, memiliki kelebihan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, kemudian mempublikasikan informasi tentang konflik tersebut dalam bentuk lebih investigatif, lebih komprehensif dengan berbagai sisi. Sementara itu, radio dan televisi, dengan karakternya yang bisa menampilkan stop press atau breaking news kapan saja, memanfaatkan waktu untuk sesegera mungkin menyebarkan informasi, terutama dengan ramuan konflik yang kontroversial serta mengaduk-aduk emosi publik.

Seiring dengan perkembangan pesat teknologi informasi, media baru, seperti SMS, e-mail, blog, Facebook, Twitter, dan Yahoo Messenger, ikut pula meramaikan penyebaran informasi tentang konflik. Media jenis ini menyebarkan informasi jauh lebih cepat dan tanpa batas melebihi media cetak, radio, dan televisi. Kasus Manohara Odelia Pinot dengan cepat bisa dipantau dan diikuti di seluruh dunia pada detik yang sama dengan ketika informasi tersebut ditulis. Kasus pendudukan hotel di Mumbai, India, menyebar cepat melalui Twitter.
Konflik memang informasi yang menggiurkan untuk disebar. Konflik juga sangat terbuka untuk dibumbui dengan berbagai informasi spekulatif, gosip, hingga yang mengada-ada. Penyebar informasi konflik bahkan merasa dialah yang terdepan menyebarkan informasi tentang konflik tersebut.

Proses hukumSesungguhnya sebagian besar pihak yang terlibat dalam konflik paham bahwa solusi terbaik keluar dari konflik adalah win-win dibanding dua pilihan lain, yaitu win-lose, apalagi lose-lose. Tapi desakan nafsu untuk memenangi konflik sering kali lebih kuat mengalahkan kematangan kalkulasi untuk mengatasi konflik dengan jalan keluar win-win. Lebih jauh, desakan nafsu memenangi konflik meninabobokan pihak yang terlibat dalam konflik dengan mengabaikan kredibilitas dan reputasi.

Beberapa faktor mendukung nafsu untuk memenangi konflik dengan cara menang atau win-lose. Salah satu alasan mengambil langkah ini adalah anggapan bahwa menang dalam konflik berarti menang segalanya karena berhasil menjaga, mempertahankan, atau menguasai kepentingan yang diperjuangkan. Untuk mencapai tekad itu, berbagai manuver harus ditempuh untuk memenangi konflik, termasuk menghalalkan penggunaan kekerasan, penistaan etika, pemanfaatan kekuasaan, dan pengingkaran atau pembelokan hukum demi kemenangan.

Kemenangan secara hukum memang penting karena bisa jadi landasan legalistik. Namun, orang melupakan bahwa ada aspek penting lain yang harus mereka perhitungkan dalam mencari jalan keluar dari konflik: menjaga kredibilitas dan reputasi. Pemaksaan untuk menang, penistaan etika, dan pembelokan hukum merupakan hal-hal yang merusak kredibilitas dan reputasi. Siapa pun bisa mengabaikan dan meremehkan pentingnya menjaga kredibilitas dan reputasi. Tapi dunia sudah berubah dan makin menyadari bahwa kredibilitas dan reputasi merupakan bagian integral dalam berinteraksi dengan kelompok lain.

Kemenangan secara hukum tidak berarti terjaganya kredibilitas dan reputasi. Apalagi jika hukum dibelokkan untuk menang. Para penegak hukum tidak akan pernah mampu menegakkan hukum jika mereka sendiri melanggarnya! Publik kadang memiliki ingatan pendek tentang konflik karena banyaknya kasus yang muncul. Mereka segera lupa berbagai tindakan tanpa etika yang dilakukan sebuah institusi atau perorangan akibat terlalu banyaknya informasi yang harus mereka terima. Tapi harus diingat bahwa catatan perilaku organisasi atau perseorangan tetap tersimpan. Bahkan, dengan kemajuan teknologi informasi, seluruh catatan tentang perilaku dan etika lembaga atau perorangan tetap tersedia untuk dikutip di masa depan. Ini memungkinkan penggalian data di masa datang tentang orang-seorang atau suatu lembaga. Dan ini akan menjadi rekam jejak penting di masa depan tentang kredibilitas dan reputasi.

Halim Mahfudz, CEO/pendiri Halma-Strategic, perusahaan public relations

Politik Uang Makin Marak dalam Kampanye

Senin, 25 Mei 2009 | 22:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Lembaga pemerhati korupsi, Indonesia Corruption Watch, menemukan 150 politik uang selama masa kampanye. Koordinator Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch, Ibrahim Fahmi Badoh, mengatakan temuan ini berdasarkan pemantauan di empat kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.

"Terjadi peningkatan dibanding penelitian pada Pemilihan 2004 di 11 daerah," kata Fahmi dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (25/5).

Menurut Fahmi, modus terbanyak politik uang adalah pembagian uang secara langsung yang mencapai 113 kasus. Sisanya antara lain melalui pembagian bahan pokok sebanyak 16 kasus, pembagian kartu telepon seluler lima kasus, pemberian barang elektronik sebanyak delapan kasus.

Fahmi menilai terjadi pergeseran pelaku dan modus kecurangan. Pelaku kecurangan pada Pemilihan 2004 didominasi oleh partai politik, sedangkan pada masa kampanye 2009 politik uang lebih banyak dilakukan oleh para calon legislator. "Besar kemungkinan sistem suara terbanyak meningkatkan jumlah politik uang," ujarnya.

ICW juga mencatat selama masa kampanye terjadi 54 indikasi penyalahgunaan jabatan. Kasus paling banyak, yaitu 26 kasus, merupakan mobilisasi pegawai negeri sipil. Berikutnya, penggunaan kendaraan dinas sebanyak 13 kasus, dan penggunaan rumah pelibatan pejabat daerah dalam kampanye sebanyak tiga kasus.

Mobilisasi pegawai negeri dan penggunaan fasilitas jabatan, kata Fahmi, merupakan indikasi korupsi. Pasalnya, fasilitas jabatan dan pegawai negeri dibiayai oleh anggaran negara.

Mantan anggota Panitia Pengawas Pemilihan Umum, Topo Sansotos, mengatakan meski laporan dana kampanye dipenuhi kecurangan, sulit menindaknya secara pidana. Pasalnya, Kepolisian dan Kejaksaan sudah menutup pintu penindaklanjutan pidana pemilihan. "Jadi memang pelaporan dana kampanye hanya bersifat normatif," ujarnya.

Topo juga menilai maraknya indikasi korupsi dan politik uang menunjukkan ketidaksiapan penyelenggara pemilihan, pengawas, penegak hukum, dan juga masyarakat dalam menghadapi modus baru kejahatan kampanye.

Ketidaksiapan ini salah satunya disebabkan perubahan kerangka hukum penyelenggaraan pemilihan. "Sistem suara terbanyak, misalnya, mengakibatkan munculnya aktor kejahatan baru, yaitu para calon legislator," ujarnya.

PRAMONO

Sumber: 
http://www.tempointeraktif.com/hg/Pemilu2009_berita_mutakhir/2009/05/25/brk,20090525-178077,id.html 


Kamis, 31 Desember 2009

Presiden Minta Etika Politik Diperhatikan

Sabtu, 26 Desember 2009 | 15:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghimbau agar partai politik yang tergabung dalam koalisi pemerintahan menjaga sikap.

"Bapak presiden menyampaikan agar etika politik diperhatikan. Jadi, memang semuanya kita kembalikan lagi bagaimana cara beretika politik yang benar dan tepat," kata Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha di kediaman pribadi presiden, Puri Cikeas Indah, Sabtu (25/12).

Meski begitu, kata Julian, belum perlu untuk melakukan penyesuaian kontrak-kontrak politik antara partai-partai mitra koalisi dengan presiden. Presiden Yudhoyono memang tengah didera ujian berat pada periode kedua pemerintahannya.

Belum genap 100 hari pemerintahan SBY-Boediono, dua kasus besar sudah mendera. Pertama ialah perseteruan KPK dan Kepolisan, disusul kemudian mega kasus Bank Century yang menghangat kini. Angket Bank Century terus bergulir dan menjadi bola panas di parlemen.

Dinamika politik pun menghangat akhir-akhir ini. Bahkan, belakangan diindikasikan akibat bergulirnya angket, koalisi partai politik pengusung SBY-Boediono dalam pemilihan presiden lalu sudah mulai rekat.

GUNANTO ES

Indosat Pertanyakan Etika Esia

Rabu, 26 Agustus 2009 - 15:56 wib
Susetyo Dwi Prihadi - Okezone
  
JAKARTA - Sindiran Esia terhadap beberapa operator GSM, menuai kritik dari para operator yang menjadi korban plesetan. Salah satunya Indosat, yang mempertanyakan etika perusahaan Bakrie Telecom tersebut.

"Kalau bicara marketing sebenarnya lumrah dilakukan untuk berpromosi, cara-cara seperti itu sudah biasa dilakukan. Tapi kan, kita mempunyai aspek etika juga," ungkap Division Head Public Relations Indosat Adita Irawati kepada okezone, di Jakarta, Rabu (26/8/2009).

Pada dasarnya, Indosat mahfum kalau tipikal program industri memang demikian adanya. Mereka pun tidak mempermasalahkan cara yang dilakukan Esia tersebut. Walaupun Indosat tetap mempertanyakan etika dari anak usaha Bakrie itu, dalam menjaga persaingan di dunia telekomunikasi.

"Indosat tidak akan melakukan aksi pembalasan, karena itu bukan cara kami. Saat ini yang kita lakukan hanya fokus untuk menjalankan bisnis kita sendiri saja," tandasnya.

Saat disinggung mengenai mantan ikon mereka, Ivan Gunawan dan Titi Kamal, yang beralih ke Esia dan turut serta menyerang Indosat. Ibu dua anak ini tidak mempermasalahkannya lagi, sebab, kedua artis papan atas tersebut memang sudah tidak terikat kontrak sebagai talent di Indosat.

Jadi, menurut Dita, baik Ivan maupun Titi boleh melakukan kerja sama dengan operator manapun. Tetapi sekali lagi, dia mengingatkan perlu adanya etika yang mesti dijalani dalam menjalankan pekerjaannya. Terlebih ini menyangkut masalah dua perusahaan yang saling bersaing.

Seperti diberitakan sebelumnya, Indosat yang populer mengusung Mentari, diubah namanya menjadi Matahari. Sedangkan IM3 dibuat menjadi I'm Sri. Malahan, dalam acara yang bertajuk Esia Bisa Pake Tarif Semaunya dan berlangsung di Wisma Bakrie 1 tersebut, Esia mendatangkan artis Titi Kamal dan Ivan Gunawan yang merupakan mantan ikon Mentari dan IM3. (SDP)

Sumber:


Bank Umum Siap Rebut Pangsa Pasar Mikro

Rabu, 09 Desember 2009 | 13:49 WIB

TEMPO Interaktif, Makassar - Bank – bank umum menyiapkan strategi untuk merebut pangsa pasar penyaluran kredit sektor mikro. Persiapan dilakukan dengan memperluas jejaring bisnis dan menghadirkan unit layanan mikro yang langsung menyentuh debitor.

“Sangat wajar kalau bank umum nasional melirik sektor mikro karena sangat menggiurkan,” kata Pimpinan Wilayah 07 Bank Nasional Indonesia, Sukarno di sela-sela seminar bertema Menjadi Pemimpin Pasar Pembiayaan Mikro di Indonesia yang dilaksanakan di Graha Multi Niaga hari ini.

Graha Multi Niaga merupakan kantor pusat Multi Niaga Grup yang bergerak di bidang Lembaga Keuangan Mikro berbasis syariah. Sukarno menjelaskan kesiapan dunia perbankan merebut pasar mikro karena pertumbuhan kreditnya mencapai 20 persen per tahun.

Sektor mikro, kata Sukarno menggiurkan karena debitur hanya membutuhkan modal kerja kecil dengan pengembalian yang cepat. Sektor yang tumbuh subur sejak krisis moneter 1998 itu, tetap stabil bergerak disebabkan usaha yang dijalankan merupakan kebutuhan masyarakat umum.

Di 2010 yang tinggal 22 hari ini, hampir semua bank umum swasta dan pemerintah akan terjun menggarap layanan mikro secara luas. Bank asing seperti CitiBank di tahun depan juga serius menggarap sektor mikro dengan membuat unit layanan yang bersentuhan langsung ke pasar tradisional.

Dia menjelaskan geliat mikro di 2008 memperlihat kinerja yang pesat dengan kredit maksimal Rp 50 juta. Tingkat pertumbuhan dan pangsa pasar usaha mikro, kata dia, terbilang tinggi mencapai 98,9 persen.

Dia mengatakan komitmen bank umum masuk ke sektor mikro karena menguntungkan, tingkat risiko minimal dan sederhana serta bervariasi. Keseriusan menggarap mikro didasarkan pada pertumbuhan di triwulan ketiga 2009 sebesar 7,4 persen.

Sedangkan kredit kecil mengikuti kinerja mikro yang tumbuh 25,2 persen. Dari sisi sektor ekonomi, ungkap dia, usaha mikro pertanian yang paling pesat sebesar 53,57 persen diikuti perdagangan 27,19 persen.

“Sektor mikro pertumbuhannya tinggi, kualitas kredit sehat dan portfolio menguntungkan,” tutur dia.

Namun dia menolak menyebutkan kegiatan bisnis bank umum telah mengganggu dan mengancam usaha lembaga keuangan mikro, seperti BPR, BPR Syariah, Koperasi, dan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT). Menurut dia kegiatan LKM tetap dapat berjalan secara wajar karena metode pembiayaan yang berbeda.

Presiden Direktur Multi Niaga Grup, Mubyl Handaling menyatakan, perluasan jejaring bisnis bank umum yang telah menyentuh sektor mikro adalah tidak etis. Mubyl mengatakan bank umum telah melakukan langkah bisnis keuangan yang tidak bermoral dan beretika.

“Etika bisnis bank umum tidak sangat bagus karena akan mematikan usaha yang dikembangkan teman-teman di BPR,” tutur dia.

Dia menuding bank umum sangat tidak memiliki etika karena telah membajak tenaga kerja dari LKM, termasuk memanfaatkan data base debitur mikro. Menurutnya tindakan bank umum itu tidak dapat dibenarkan karena menimbulkan kekecewaan dari pelaku LKM.

Dia meminta pemerintah harus turun tangan menyelesaikan persaingan yang sudah mengarah tidak sehat. Pemerintah dan DPR harus mengeluarkan aturan soal model pembiayaan mikro bank umum dan LKM.

SULFAEDAR PAY

Sumber:

Pendidikan Antikorupsi Untuk Etika Bisnis yang Sehat

Senin, 03 Desember 2007 | 14:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar Konferensi Internasional Asian Forum on Bussiness Education (AFBE) 2007 dengan tema, "Etika Bisnis dan Korupsi di Sektor Publik dan Swasta". Konferensi ini diikuti 75 peserta dari Asia, Afrika, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Wakil Rektor UNJ, Soeprijanto, menyatakan forum ini digelar untuk perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan bisnis. "Di sini peran perguruan tinggi sangat penting. Belum ada kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan korupsi," katanya.

Ia menganggap pendidikan kewarganegaraan yang selama ini diberikan kepada mahasiswa tidak cukup untuk memberantas korupsi.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UNJ, Dedi Purwana, menyatakan korupsi dan etika bisnis yang tidak baik menyebabkan praktik bisnis yang tidak sehat. "Andai perguruan tinggi atau lembaga pendidikan di bawahnya bisa mendidik perilaku bisnis yang baik, korupsi bisa dicegah sejak dini," katanya.

Ia menambahkan, saat ini di UNJ perilaku pemberantasan korupsi sudah mulai ditanamkan lewat kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. REH ATEMALEM S.

Sumber: